It’s like a roller coaster, the way you take my breath away—it feels like I’m slowly falling deeper and deeper.
“Kita lewat Salemba aja ya, Del,” ujung mata Edel menangkap jari Aibey yang sibuk mengutak-atik monitor CarPlay-nya. Layar Google Maps sedang ia setting ke tujuan pulang mereka berdua di Kamis malam itu.
Berdua.
Edel hampir tidak mau percaya—tidak menyangka, bahwa ia bisa dan akan pulang bersama teman kantornya yang satu itu malam ini, tepat setelah mengikuti acara main bersama semua rekan kerjanya. Padahal biasanya, ia paling tidak suka acara-acara sosial seperti ini. Pilihannya selalu sama: langsung pulang, masuk ke kamar, merebahkan diri di kasur, dan menghabiskan sisa harinya sampai ketiduran. Tapi malam ini beda. Ia memutuskan untuk datang juga meskipun rasa enggan sudah mengendap di belakang pikirannya sejak awal. Edel tahu, mau nggak mau, ia memang butuh dan harus datang ke acara ini. Toh, sebagai anak baru di kantor, Edel merasa setidaknya ia harus mencoba berbaur dan mengenal orang-orang yang sekarang akan ia temui hampir setiap hari.
“Hmm… boleh, ikut lo aja deh,” jawabnya. “Gue jarang lewat sini, Bey. Emang ada apa aja sih disini?” Edel mulai membuka pembicaraan saat melihat layar Google Maps-nya mengecil, kini terbagi dengan tampilan lagu dari Spotify.
“Sebenernya gak ada apa-apa sih, gue juga gak gitu sering main daerah sini,” kekeh Aibey, satu tangannya bertengger santai di kemudi, sementara tangan satunya mengatur posisi mobil ketika ia mulai keluar dari tempat parkir. Edel sempat menangkap gerakannya dari ujung mata—Aibey terlihat sangat santai untuk seseorang yang, entah kenapa, sejak tadi membuat Edel jadi semakin sadar dengan keberadaan dirinya sendiri.
Dalam hati Edelweiss bersumpah, ia tidak mau menolehkan pandangan atau bahkan wajahnya ke sebelah kanan selama perjalanan mereka. Bukan karena ada sesuatu yang harus ia hindari, sebenarnya. Hanya saja, ia tidak mau semakin kepedean atau terlalu mengartikan situasi ini macam-macam ketika mereka berada sedekat ini, berdua di mobil Aibey, dengan jarak yang rasanya tiba-tiba jadi terlalu dekat hanya karena sekarang tidak ada orang lain di antara mereka.
“Udah pake seat belt kan, Del?”
Suara dari sampingnya membuat Edel menelan ludah. Ia masih sedikit takut (entah takut karena apa) tapi akhirnya mengangguk dan menjawab, “Udaaahh. Aman kok.”
Tidak lama kemudian, ia merasakan laju mobil Aibey mulai bergerak menyusuri jalanan Jakarta. Lampu-lampu kendaraan berjejer di depan mereka, sementara gedung-gedung dan toko yang masih buka bergeser pelan dari balik kaca jendela mobil.
“Nge-jam dong!” tukas Edel akhirnya, memecah keheningan sambil mulai menyalakan tombol On dari ponselnya sendiri untuk ikut jam yang semoga bisa membantu dinamika mereka berdua malam itu.
“Padahal pake HP-gue aja bisa, tau,” ujar Aibey sambil tertawa kecil. Edel merasakan pandangan Aibey mengarah ke arahnya, tetapi matanya tetap ia tujukan ke ponselnya. Ia sibuk menunggu notifikasi Bluetooth sambungan jam-nya muncul, setidaknya supaya ia bisa menyibukkan dirinya untuk… 10? 15? 20? detik ke depan.
Calm the fuck down. It’s just a casual ride with your coworker, now turned acquaintances? A friend?
Edel tidak tau dan tidak bisa tahu harus menyebut Aibey sebagai apa, dan situasi apa yang sebenarnya sedang mengelilingi mereka saat ini. There was nothing to it. At least, there shouldn’t be. Hanya seorang teman kantor yang kebetulan rumahnya searah dan menawarkan tumpangan pulang. Se-simple itu.
Tapi berdasarkan perasaan yang terlalu sentimental dari diri Edel sendiri, tentu ia merasa sedikit janggal. Apalagi hampir semua teman-teman kantor barunya barusan tidak ada yang bersikap aneh saat mengetahui bahwa Edel dan Aibey akan pulang bersama, di jam sepuluh malam dari Jakarta Pusat menuju rumah mereka yang, kebetulan (tolong garis bawahi) searah. Tidak ada yang menganggapnya aneh. Tidak ada yang menanyakan macam-macam.
Mungkin memang sudah biasa kah? Atau memang karena hanya mereka berdua yang searah? Atau memang Aibey yang baik? Atau ya, pokoknya memang biasa saja kali ya?
Edel berusaha berhenti memikirkannya terlalu jauh, meskipun kepalanya sendiri sudah cukup penuh dengan kemungkinan-kemungkinan kecil yang sebenarnya tidak perlu ia pikirkan. Ia bahkan sempat bertanya-tanya apakah tadi ia membuat langkah yang salah ketika mengiyakan ajakan tersebut. Saying yes to Aibey, lalu memposisikan dirinya di dalam mobil Aibey sekarang, sama-sama mendengar lagu Justin Bieber, Ariana Grande, diselingi beberapa K-R&B yang mulai ia queue sepanjang jalan.
“Justin boleh, Del, queue lagi yang banyak dong,” suara Aibey memecah keheningan yang Edel ciptakan saat masih memilih lagu-lagu yang bisa mengisi perjalanan mereka.
“Oke!” ujarnya, berusaha terdengar biasa saja, padahal hatinya sebenarnya sudah berdebar-debar kepalang gila. She hated that her body seemed to have its own reaction to things her brain had already decided were completely normal.